Industri pertanian konvensional yang hanya memprioritaskan hasil panen telah berhasil memenuhi kebutuhan manusia, namun sayangnya, praktik ini tidak ramah terhadap lingkungan. Beruntung, saat ini banyak contoh pertanian berkelanjutan yang mulai diterapkan di berbagai belahan dunia.

Pertanian berkelanjutan menekankan pentingnya kesehatan organisme tanah dan ekosistem. Ini sangat berbeda dengan sistem pertanian konvensional yang bergantung pada penggunaan pestisida dan pupuk sintetis, yang terbukti dapat merusak tanah, air, udara, dan bahkan iklim.

Menurut informasi dari laman Green America, pupuk sintetis dapat melepaskan nitrogen oksida, gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global 300 kali lebih besar di bandingkan karbon dioksida. Jika penggunaan bahan kimia ini terus berlanjut, kesehatan manusia pun akan terancam.

Oleh karena itu, beralih ke pertanian berkelanjutan tidak hanya akan melindungi lingkungan, tetapi juga akan bermanfaat bagi kesehatan manusia saat ini dan generasi mendatang. Pertanyaannya adalah, apa saja contoh dari pertanian berkelanjutan tersebut?

Contoh Pertanian Berkelanjutan

Merujuk terhadap Union of Concerned Scientist, berikut ini beberapa semisal pertanian berkesinambungan yang terbukti efektif dalam mencukupi kebutuhan manusia tanpa mengakibatkan kerusakan lingkungan.

1. Rotasi dan Diversifikasi Tanaman

Praktik ini di laksanakan dengan langkah menanam beraneka tipe tanaman secara bergantian di lahan yang sama. Misalnya, setelah menanam jagung yang memakan banyak nutrisi tanah, tanamlah kacang-kacangan yang dapat mengikat nitrogen untuk mengembalikan keseimbangan tanah. Praktik ini bakal mengakibatkan tanah lebih sehat dan hama dapat di kendalikan dengan baik.

2. Menanam Tanaman Penutup

Tanaman penutup merujuk terhadap tanaman yang tidak untuk dipanen. Praktik ini kebanyakan dilaksanakan setelah musim panen manfaat menghambat tanah kosong dan kering.
Contoh tanaman penutup adalah semanggi dan gandum hitam. Keduanya dapat menghambat erosi, mengisi lagi nutrisi tanah, dan mengendalikan gulma atau hama.

3. menjauhi Membajak Tanah

Sebelum menanam, kebanyakan lahan bakal di bajak untuk menyiapkan tanah dan menghambat tumbuhnya gulma. Namun, perihal berikut justru dapat mengakibatkan kerusakan struktur dan kebugaran tanah.

4. Mengadopsi Praktik Agroforestri

Agroforestri adalah proses multifungsi yang sangat mungkin pohon di tanam di kira-kira tanaman pangan. Misalnya, menanam kopi di bawah pohon buah yang lebih tinggi. Selain memaksimalkan penggunaan lahan, praktik ini termasuk tingkatkan keanekaragaman hayati.

5. Mengintegrasikan Ternak dan Tanaman Pangan

Selama ini, industri pertanian condong mengantarai diri berasal dari peternakan. Padahal, mengintegrasikan keduanya dapat mengakibatkan industri pertanian maupun peternakan jadi lebih efektif dan menguntungkan. Contohnya, menggembalakan hewan di padang rumput hasil rotasi bakal mengakibatkan tanahnya jadi lebih sehat dan kurangi emisi metana. Pertanian termasuk dapat beroleh pupuk kandang yang melimpah berasal dari peternakan.

6. Menerapkan Sistem Pengelolaan Hama Terpadu

Pengelolaan Hama Terpadu atau Integrated Pest Management (IPM) memadukan praktik biologi, kultural, dan kimia untuk mengendalikan hama dalam mengolah pertanian. Caranya dengan manfaatkan predator atau parasit alami seperti serangga.
Serangga dengan kuantitas yang terukur bakal di dorong menuju lahan pertanian manfaatkan perangkap, jaring, atau sebagainya. Dengan metode ini, penggunaan pestisida dapat diminimalisasi.