Kementan Jamin Persediaan dan Harga Bawang Putih Hingga Idul Fitri Aman, Ini Alasannya

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin persediaan bawang putih memasuki bulan suci Ramadhan hingga akhir Idul Fitri mencukupi. Pasalnya, pada tanggal 2 Mei 2019 ini, sebanyak 115 ribu ton bawang putih impor telah merapat ke Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak.

Tentang harga bawang putih di beberapa pasar yang mengalami lonjakan, Kementan melalui Direktorat Jenderal Hortikultura melakukan operasi pasar di lima titik di wilayah Jabodetabek. Yakni Pasar Perumnas Klender, Pasar Senen, Pasar Rawamangun, Pasar Tanah Abang dan Pasar Kebayoran Lama.

“Sekarang ini harga bawang putih sedang tinggi di kisaran Rp 50 hingga 60 ribu. Ini sudah tidak wajar harganya makanya kami lakukan operasi pasar. Operasi pasar kami lakukan dua hari, hari ini 5 ton, besok 5 ton untuk lima pasar,” ujar Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Moh Ismail Wahab di Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Adanya operasi pasar ini, tegas Ismail, pemerintah harapkan untuk hari ini dan minggu depan harga bawang putih sudah kembali normal. Hari ini stok bawang putih impor masih proses di pelabuhan. 

“Untuk meredam pasar, hari ini kita melakukan operasi pasar di lima titik termasuk pasar retail. Harga yang kami berikan adalah Rp 23 ribu per kg. Ini dilakukan supaya ada psikologi pasar sehingga harga stabil jelang kedatangan 115 ribu ton,” tegasnya.

Lebih jauh Ismail memastikan jelang puasa dan lebaran persediaan bawang putih aman. Bawang putih yang sudah keluar ijin impornya 115 ribu ton, sementara kebutuhan per bulan hanya 42 ribu ton. Ini artinya melebihi kebutuhan konsumen. 

“Yang perlu saya sampaikan sebelumnya sudah keluar 115 ribu ton. Arahannya adalah langsung dicurahkan ke pasar – pasar dan tidak disimpan ke gudang – gudang guna mempercepat normalisasi harga pasar,” tekan Ismail. 

*Produksi Bawang Putih dalam Negeri*

Ismail menyebutkan Kementan menargetkan swasembada bawang putih terlaksana pada 2021. Dengan demikian, kebutuhan bawang putih dipenuhi dari produksi dalam negeri. Target awal adalah memproduksi benih terlebih dahulu.

“Produksi bawang putih pada 2019 kita targetkan seluas 18 ribu hektare. Akan tetapi produksi yang dihasilkan adalah untuk benih. Untuk swasembada bawang putih ditargetkan pada 2021 sebanyak kurang lebih 80 ribu hektare. Nah posisi kita sekarang 28 ribu hektare,” jelas Ismail. 

Menurut Ismail, Kementan optimistis pada 2021 Indonesia mampu swasembada, sehingga tidak lagi bergantung kepada impor. Indonesia mampu memenuhi kebutuhan sendiri dari produksi dalam negeri. 

“Kita punya varietas – varietas yang bisa memproduksi seperti bawang putih impor,” ujarnya.

*Tata Niaga Bawang Putih*

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik menuturkan Direktorat Jenderal Hortikultura sejauh ini telah mengatur tata niaga bawang putih secara efisien guna memenuhi kebutuhan pasar. Lihat saja, dari importir langsung ke pasar baik pasar induk hingga pasar retail. Adapun hampir 97 persen bawang putih itu impor. 

“Akhir Maret kita sudah mengeluarkan RIPH dan sekitar awal April kemarin sudah keluar SPI nya 115 ribu ton. Masuknya 115 ribu ton akan dibongkar hari ini,” ujarnya.

Yasid meyakini harga bawang putih di dalam negeri akan stabil. Hari ini dikeluarkan RIPH sebanyak 125 ribu ton. Jadi total pemasukan bawang putih pada dua bulan berturut – turut, yakni Maret dan pertengahan April. 

“Jadi secara berkesinambungan, pemasukan bawang putih dilakukan Maret dan April. Sehingga dalam waktu enam bulan ke depan stok bawang putih aman,” jelas Yasid.

PD Pasar Jaya Rawamangun mendukung penuh Kementerian Pertanian dalam upaya normalisasi harga bawang putih. Operasi pasar yang dilakukan berdampak baik bagi masyarakat guna meningkatkan daya beli masyarakat.

Manager Area IX, PD Pasar Jaya Rawamangun, Awaluddin menegaskan secara umum pihaknya mendukung program – program Kementerian Pertanian. Dampak program sejauh ini dirasakan sangat baik. 

“Saya beberapa kali keliling, tanya – tanya sama pedagang di sini rata-rata harga bawang putih mereka jual Rp 48 ribu per kg kemudian yang kating sampai Rp 60 ribu. Nah operasi pasar ini hanya 23 ribu per kg. Saya berharap dengan adanya operasi pasar ini daya beli masyarakat lebih baik,” tegas Awaluddin.

Sumber : Kementrian Pertanian

Posted in Berita | 3 Comments

PASCA PANEN JAGUNG KOMPOSIT

Memanen pada saat yang tepat merupakan hal yang cukup penting guna mempertahankan kualitas dan kuantitas hasil jagung.

Umur panen jagung sangat tergantung dari varietas yang digunakan serta tinggi tempat jagung ditanam, dalam arti bahwa makin tinggi tempat maka umur panen akan l ebih lam. Umur panen jagung berkisar antara 80 -140 hari.

Tanda-tanda umum saat panen jagung yang tepat atau siap dipanen ditandai dengan terbentuknya lapisan hitam di ujung biji dan kulit tongkol (klobot) berwarna kuning mengering, biji tampak mengkilat dan bila ditekan dengan kuku biji jagung tersebut tidak berbekas. Panen dilakukan dengan cara memetik.

Penanganan Pasca Panen Penanganan pasca panen jagung meliputi serangkaian kegiatan pengupasan, pengeringan, sortasi, pemipilan, penyortiran dan penggolongan.

  1. Pengupasan

 Jagung hasil panen masih terbungkus klobot. Untuk itu, setelah dipanen, sebaiknya jagung segera dikupas dan dibersihkan dari rambut. Pengupasan ini bertujuan agar kadar air tongkol jagung menurun sehingga terhindar dari pertumbuhan jamur pada tongkol dan biji jagung yang baru dipanen. Selain itu, pengupasanpun dapat mempercepat proses pengeringan. Namun, ada pula petani yang mengupas jagung dengan menyisakan kelobotnya sebagai pengikat saat proses pengeringan. Untuk jagung masak mati sebagai bahan makanan, begitu selesai dipanen, kelobot segera dikupas.

  1. Pengeringan Tongkol Jagung

Prinsip pengeringan adalah mengeluarkan air dari bahan sampai tercapai kadar air yang aman untuk disimpan. Sementara tujuan utama pengeringan adalah untuk mencegah kerusakan.

Beberapa keuntungan melakukan pengeringan adalah meningkatkan daya simpan, mempertahankan viabilitas benih, menambah nilai ekonomis, memudahkan pengolahan lebih lanjut, serta memudahkan dan mengurangi biaya transportasi.

Berdasarkan sumber energinya, pengeringan pada jagung dapat dibedakan menjadi pengeringan alami dan pengeringan buatan.

A. Pengeringan alami Pengeringan alami

Pengeringan alami merupakan pengeringan yang dilakukan dengan bantuan sinar matahari (penjemuran).

Cara pengeringan ini cukup mudah dan biayanya murah. Namun, kendalanya adalah jika cuaca tidak memungkinkan maka proses pengeringan akan berlangsung tidak sempurna dan memerlukan waktu lama. Pengeringan pada musim hujan memakan waktu 7-14 hari dan pada musim kemarau antara 3-7 hari. Agar diperoleh hasil pengeringan yang baik, sebaiknya disediakan areal pengeringan yang cukup luas. Hal ini dikarenakan jagung yang akan dikekringkan tidak boleh ditumpuk. Teknis penjemuran dapat dilakukan pada lantai jemur, alas anyaman bambu, tikar, atau dengan cara digantung untuk tongkol yang masih ada kelobotnya. Pengeringan di lantai jemur sering menghasilkan biji retak.

Selain dengan cara dijemur di panas matahari, ada sebagian petani yang melakukan pengeringan denga cara diasap. Cara pengeringan ini biasanya dilakukan di para-para diatas dapur. Untuk mengeringkan jagung dalam jumlah banyak, cara pengeringan ini kurang efektif diterapkan, kecuali kalau sumber asapnya dibuat khusus seperti dari pembakaran sekam, tongkol jagung, kayu, atau bahan yang lain. Pengeringan tongkol jagung dilakukan hingga kadar air mencapai 17-20%. Pada kadar air ini, jagung mudah dipipil tanpa menimbulkan banyak kerusakan.

B. Pengeringan buatan

Pengeringan buatan adalah pengeringan yang dilakukan dengan bantuan alat mekanis. Penerapan cara ini untuk mengantisipasi kalau terjadi hari hujan terus menerus. Beberapa jenis alat pengering yang biasa digunakan adalah omprongan, alat pengering dengan aerasi, dan alat pengering tipe continuous. b. Sortasi Sortasi dilakukan untuk memisahkan tongkol jagung yang berukuran besar dengan yang kecil, berbiji rapat dengan jarang atau rusak, berwarna seragam putih atau kuning dengan yang tidak seragam, serta sudah masak dengan belum masak. Untuk memisahkan biji yang berukuran besar dan kecil dapat dilakukan setelah pemipilan.

  1. Pemipilan

Salah satu kegiatan yang kritis dalam penanganan pascapanen di tingkat petani adalah pemipilan karena kehilangan hasil pada tahap ini dapat mencapai 4%. Pemipilan merupakan kegiatan melepaskan biji dari tongkol, memisahkan tongkol, dan memisahkan kotoran dari jagung pipilan. Tujuannya adalah untuk menghindarkan kerusakan, menekan kehilangan, memudahkan pengangkutan, dan memudahkan pengolahan selanjutnya.

Oleh karenanya, sebaiknya pemipilan dilakukan pada saat yang tepat, yaitu saat kadar air jagung berkisar 17-20%. Penjemuran dalam bentuk pipilan memakan waktu 2-4 hari pada musim hujan dan 1-2 hari pada musim kemarau.

Pemipilan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara tradisional dan bantuan alat.

a. Pemipilan secara tradisional

Petani di pedesaan masih banyak memipil jagung secara tradisional, yaitu dengan menggunakan tangan. Dengan cara ini, kapasitas pipilnya hanya sekitar 10-2- kg/jam. Meskipun kapasitasnya kecil, namun cara pemipilan ini cukup efektif dalam memisahkan tongkol dengan kotoran lain. Selain itu, kerusakan yang ditimbulkan relative kecil. Selain dengan tangan, pemipilan tradisional yang lain adalah pemukulan jagung pada karung dengan tongkat. Kapasitas pipilan jagung pada cara ini dapat ditingkatkan, tetapi kerusakan mekanis yang ditimbulkan lebih besar. Kerugian lainnya adalah biji yang hilangpun meningkat karena banyak yang tertinggal pada tongkol.

b. Pemipilan dengan alat.

Pemipilan jagung dengan bantuan alat dapat dilakukan baik dengan alat sederhana maupun bermesin. Pemipilan dengan alat bermesin umumnya dilakukan petani dengan cara menyewa mesin pemipil jagung yang dioperasikan di lahan penanaman atau dirumah-rumah petani. Kapasitas pemipilan cara ini mencapai 1-2 ton/jam. Berbagai tipe alat pemipil yang tersedia di pasaran diantaranya Kikian, Pemipil tipe Sulawesi Utara, Pemipil Sederhana tipe silinder, pemipil tipe mungil, pemipil tipe ban, dll.

  1. Penyortiran dan Penggolongan

Setelah jagung terlepas dari tongkol, biji-biji jagung harus dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki, sehinggga tidak menurunkan kualitas jagung. Yang perlu dipisahkan dan dibuang antara lain sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, kotoran selama petik ataupun pada waktu pengumpilan.

Pemisahan dengan cara ditampi seperti pada proses pembersihan padi, akan mendapatkan hasil yang baik. ——–

Yana M , SP

dari berbagai ssumber

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

PENANGGULANGAN HAMA ULAT GRAYAK PADA TANAMAN PADI

Ulat Grayak merupakan salah satu hama yang akhir-akhir ini banyak menyerang tanaman padi. Dahulu ulat ini sering disebut sebagai ulat tentara. Menyerangnya pada malam hari, sedangkan pada siang hari ulat ini bersembunyi dibawah tanaman padi atau di dalam tanah Selain menyerang tanaman padi ulat ini dapat pula menyerang tanaman lain seperti tanaman jagung, gandung dan tanaman sayur-sayuran.

Ada tiga jenis ulat grayak yaitu

  1. ULat Grayak Kelabu (Leucania unipuncta).

Ulat ini bertelur dalam kelompok yang terdiri dari 90-230 butir rata-rata 100 butir yang dilindungi oleh suatu substansi yang berwarna putih, diletakkan pada upih atau tangkai daun padi. lama stadium telur 7-9 hari. Larva berwarna kelabu dengan kepala coklat hitam, mempunyai enam instar, stadium larva 28 hari, kepompong umunya berada di dalam tanah dan stadium larvanya mencapai 29 hari atau rata-rata 16 hari. sehingga siklus hidup keseluruhan selama 30-36 hari

  1. ULat Grayak Coklat Hitam (Spodoptera maurita)

Ulat Grayak ini bertelur sebanyak 150-200 butir yang diletakkan berkelompok pada permukaan bawah daun padi atau rumput. Stadium telur 5-9 hari. Larva ulat ini berwarna coklat sampai coklat hitam dan pada punggungnya terdap[at tiga garis yang berwarna lebih muda mempunyai, tingkatan hidup atau instar sampai lima, Stadium larva selama 22 hari, kelompong diletakkan di bagian bawah, berwarna coklat gelap, stadium kepompong 10-14 hari. Sedangkan siklus keseluruhan antara 20 -31 hari.

  1. Ulat Grayak bergaris kuning (Laphygma exemta)

Pada ulat Grayak ini telur diletakkan pada permukaan daun padi, jumlah telur 150-200 butir yang diletakkan secara berkelompok. Lamanya stadium telur 2-3 hari, larva sampai instar enam lama stadium larvanya 11-12 hari. Pupa umumnya berada dalam tanah, lama stadium pupa 5-10 hari. Sehingga siklus hidup secara keseluruhan selama 20-30 hari.

Gejala Serangan

Gejala serangan ulat grayak Ulat grayak coklat hitam, biasanya menyerang pesemaian padi yang sudah tua, semula yang diserang hanya pada bagian pinggirnya saja, akan tetapi kemudian pada seluruh pesemaian akan diserangnya pula. Sedangkan ulat grayak kelabu biasanya menyerang tanaman padi di areal pertanaman. Tanaman padi yang diserang umumnya tanaman padi yang sudah tua, dengan memakan daun daunnya, tangkai daun putus bahkan tanaman padi muda bisa menjadi habis. Ulat Grayak bergaris kuning justeru yang dimakan atau yang diserang tanaman padi yang masih muda.

Selaian itu juga ulat ini dapat menyerang tanaman jagung, tebu, padi gogo dan tanaman palawija lainnya.

Cara mengatasi serangan ulat grayak :

  1. Secara fisik, yaitu dengan jalan mencari ulat-ulat tersebut kemudian ditangkap dan dibunuhnya. Hal ini dapat dilakukan apabila intensitas serangannya masih sangat ringan atau rendah
  2. Pada saat pertumbuhan pada fase vegetative, lakukan pengamatan di lapangan. apabila dalam pengamatan di dapatkan ulat grayak sebanyak 2 ekor untuk tiap meter persegi, maka pemberantasan dengan menggunakan insektisida harus segera dilakukan.

Dalam melakukan penyemprotan ini harus diperhatikan beberapa hal antara lain:

  1. Lakukan penyemprotan pada saat ulat grayak ini keluar dari tempat persembunyiannya yaitu pada waktu pagi hari atau sore hari.
  2. Ikuti petunjuk-petunjuk yang tertera pada label bungkus insektisida yang digunakan agar tidak terjadi kesalahan dalam pengggunaannya.

Adapun insektisida yang dapat digunakan untuk pemberantasan ulat ngrayak ini antara lain; Agrothion 50 EC, Azodrin 15 WSC, Ambush 2 EC. Basudin 60 EC. Bayrusil 250 EC dan insektisida lainnya

Demikian cara penanggulangan atau mengatasi serangan hama ulat grayak pada tanaman padi semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi petani yang memerlukannya.

Yana M, SP

Posted in Ilmu Pengetahuan | 2 Comments

Penanganan Pasca Panen Karet

  1. PENDAHULUAN

Peluang ekspor karet alam Indonesia ke depan masih tetap cerah bahkan Indonesia dapat menjadi negara pemasok karet utama mengingat 2 pemasok utama lainnya (Thailand dan Malaysia) sudah tidak mampu lagi meningkatkan produksinya karena keterbatasan lahan pengembangan.

Dibalik peluang yang sangat besar tersebut, tuntutan terhadap bahan baku yang bermutu merupakan suatu tantangan yang besar bagi Indonesia. Mutu bahan baku karet yang diekspor ke luar negeri sangat ditentukan oleh penanganan bahan olah karet di tingkat petani. Semenjak Indonesia dikenalkan dengan produk crumb rubber dengan SIR (Standar Indonesian Rubber), mutu bahan olah karet yang dipersiapkan oleh petani semakin merosot. Bentuk sit angin yang pada mulanya dikenal masyarakat dan menjadi produk utama yang dihasilkan petani karet sedikit demi sedikit berubah dan diganti dengan bentuk slab

2. PERMASALAHAN

Karet dalam bentuk slab sering terjadi manipulasi bobot bahan olah karet (dengan cara mencampur bokar dengan bahan ikutan lainnya yang mengakibatkan mutu slab menjadi rendah dan inefisiensi dalam proses serta transportasi. Pencampuran ini untuk mendapatkan tambahan berat timbangan dengan cara yang tidak wajar. Kondisi mutu bokar yang buruk ini dimanfaatkan oleh pedagang perantara untuk mendapatkan keuntungan melalui tekanan harga kepada petani.

3. PENANGANAN BOKAR

A. Lateks Kebun

Lateks kebun yang bermutu baik merupakan syarat utama untuk mendapatkan hasil bokar yang baik. Untuk dapat mencapai hasil karet yang bermutu tinggi, maka kebersihan dalam bekerja merupakan syarat paling utama yang harus diperhatikan seperti kebersihan peralatan yang digunakan dan kemungkinan terjadinya pengotoran lateks oleh kotoran.

Penurunan mutu biasanya terjadi disebabkan oleh proses prakoagulasi. Prakoagulasi akan menjadi masalah dalam proses pengolahan sit asap atau sit angin dan krep (crepe), sedangkan dalam pengolahan karet remah tidak menjadi masalah.

Prakoagulasi pada lateks dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah aktivitas mikroorganisme, aktivitas enzim, iklim, budidaya tanaman dan jenis klon, pengangkutan, serta adanya kontaminasi kotoran dari luar. Untuk mencegah terjadinya prakoagulasi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (a) Alat-alat penyadapan dan pengangkutan harus senantiasa bersih dan tahan karat; (b) Lateks harus segera diangkut ke tempat pengolahan tanpa banyak goncangan; (c) Lateks tidak boleh terkena sinar matahari langsung; dan (d) Dapat menggunakan anti koagulan seperti amonia (NH3) atau natrium sulfit (Na2SO3).

Dalam Penanganan lateks kebun agar melakukan hal-hal sebagai berikut :

a. Pembersihan Bidang Sadap

Sebelum penyadapan dimulai, bagian kulit pohon yang akan disadap hendaknya dibersihkan dahulu. Jika penyadapan dilakukan tiap dua hari sekali pekerjaan membersihkan ini dapat dilakukan seperlunya saja.

b. Pengumpulan lateks

Pengumpulan lateks di kebun pada umumnya dilakukan 4-5 jam setelah penyadapan pertama. Lateks dalam mangkuk sadap dituangkan ke dalam ember atau bedeng dan sisa lateks dibersihkan dengan menggunakan sudip. Sudip terbuat dari kayu yang dibungkus dengan selembar karet ban dalam. Bentuk sudip dibuat sedemikian rupa sehingga dengan sekali gerak sisa lateks dalam mangkuk tersapu bersih. Sudip harus dibersihkan dan diperiksa secara teratur serta harus diperbaharui pada waktu tertentu.

Ember-ember pengumpul lateks yang terbaik ialah ember-ember yang dibuat dari aluminium atau bejana-bejana yang dilapisi timah putih dan memakai tutup. Ember-ember dari email lebih murah tapi lebih cepat aus. Untuk mencegah bergoncangnya lateks dalam ember kadang-kadang para penyadap meletakkan daun-daun di atas permukaan lateks. Hal ini tidak diperbolehkan karena lateks akan tercemar. Penggunaan drum besi bekas untuk pengumpulan lateks tidak diperkenankan. meskipun drum tersebut setiap pemakaiannya selalu dicuci. Ember/wadah pengumpul lateks agar dihindarkan dari sinar matahari, karena suhu yang tinggi mempercepat terjadinya prakoagulasi.

c. Pengawetan lateks

Salah satu bentuk bahan olah karet adalah lateks cair, yang akan diproduksi menjadi bentuk lateks pekat sebagai bahan baku industri. Untuk mendapatkan lateks tetap cair sampai di tempat pengolahan lateks pekat, lateks kebun perlu diawetkan karena lateks kebun akan menggumpal dalam beberapa jam setelah dikumpulkan. Waktu yang diperlukan untuk pengumpalan alami ini bergantung pada suhu sekitarnya dan kemantapan lateks itu sendiri.

Sampai saat ini amoniak merupakan pengawet lateks yang masih digunakan dan dipilih sebagai pengawet baku. Amoniak dapat diperoleh dalam dua bentuk, yaitu gas atau larutan 20%. Untuk kebutuhan dalam jumlah sedikit, umumnya digunakan larutan amonia 2,5 % per liter lateks. Kelemahan penggunaan amoniak adalah mudah menguap, sehingga bila dibiarkan terbuka akan cepat menurun kadarnya dan pada proses penggumpalan diperlukan asam format (semut) yang lebih banyak. Selain itu, untuk pengawetan lateks dapat juga digunakan Natrium sulfit. Natrium sulfit diperdagangkan dalam bentuk serbuk putih berkadar 90% – 98%. Natrium sulfit bersifat higroskopis dan mudah teroksidasi oleh udara. Oleh karena itu bahan ini harus disimpan dalam botol tertutup rapat serta diletakkan di tempat kering dan dingin. Dosis pemakaiannya adalah 5 – 10 ml larutan Natrium sulfit 10% untuk setiap liter lateks. Amonia atau natrium sulfit sedapat mungkin ditambahkan ke dalam mangkuk lateks, semakin cepat akan semakin baik.

d. Pengangkutan lateks

Lateks kebun yang sudah dibubuhi amoniak dituangkan melalui tabung atau pipa ke dalam tangki pengangkut. Tangki dilengkapi dengan penyaring 40 mesh yang ukurannya sesuai lubang masuk. Tangki pengangkut diletakkan dalam truk. Selain tangki pengangkut lateks, prakoagulump dan skrep yang telah terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam suatu tempat lalu diangkut menuju pabrik.

Lateks yang telah dibubuhi amoniak bereaksi alkalis tidak diperbolehkan kontak dengan benda yang terbuat dari tembaga, kuningan, seng dan sebagainya karena latek beramoniak akan bereaksi dengan logam tersebut. Penyaring lateks juga sebaiknya terbuat dari baja tahan karat. Tangki lateks terbuat dari besi lunak (mild steel) dan dianjurkan dilapisi dengan lilin untuk mengurangi melekatnya lateks pada sisi-sisi dan alas tangki. Dengan pelapisan lilin juga memudahkan pembersihkan karena film karet yang melekat dapat dikuliti dengan mudah

B. Lump

Lump mangkuk adalah lateks kebun yang dibiarkan membeku secara alamiah dalam mangkuk. Pada musim penghujan, untuk mempercepat proses pembekuan lateks ditambahkan asam format/semut atau pembeku asap cair ke dalam mangkuk. Keuntungan pembuatan lump mangkuk :

  1. Tenaga kerja relatif lebih sedikit
  2. Tidak ada resiko prakoagulasi
  3. Penanganannya mudah dan praktis.

Kerugian pembuatan lump mangkuk, diantaranya:

  1. Masih ada kemungkinan terjadi manipulasi berat yang dilakukan dengan jalan menambahkan bahan-bahan non-karet
  2. Teknik pengukuran KKK yang akurat tidak mudah, karena tingkat kebersihan dan pemeraman lump mangkuk yang beraneka ragam
  3. Terjadi penurunan mutu terutama nilai PRI dan laju vulkanisasi akibat penyimpanan yang tidak memenuhi syarat
  4. Tidak dapat dihasilkan karet remah dengan mutu prima.

4. PERSYARATAN MUTU BOKAR

Untuk mendapatkan hasil bokar yang bermutu baik, maka bahan baku yang digunakan perlu memenuhi beberapa persyaratan, sebagai berikut:

  1. Untuk lateks kebun, lateks yang digunakan tidak boleh dicampur dengan air, bubur lateks ataupun serum lateks dan benda lain seperti kayu ataupun kotoran lain serta berwarna putih dan berbau segar
  2. Untuk bokar yang berbentuk koagulum, bahan penggumpal yang digunakan adalah bahan penggumpal yang direkomendasikan seperti asam format dll. Penggunaan bahan penggumpal yang tidak direkomendasikan seperti tawas, pupuk TSP, tije, asam dari tanaman hutan dan gadung harus dihindari.
  3. Standar Nasional Indonesia Bahan Olah Karet diatur menurut SNI No. 06-2047-2002

Yana M,SP

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

BPP Muara Uya Kabupaten Tabalong Laksanakan IPW di Desa Garagata

Balai Penyuluhan Pertanian Muara Uya Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan melaksanakan Identifikasi Potensi Wilayah (IPW) ke tiga kainya di tahun 2019 yaitu di desa Garagata Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong. Kegiatan IPW ini merupakan program dari BPP Muara Uya yang di dukung Dinas Pertanian Tabalong melalui dana APBD. M Husnayani selaku koordinator mengatakan bahwa kegiatan IPW ini merupakan kewajiban bagi seorang penyuluh pertanian sebelum melaksanakan penyuluhan di lapangan  dan dasar bagi PPL dalam menyusun Rencana Kerja di wilayah kerjanya. Untuk  kegiatan di desa Garagata ini adalah IPW ketiga di lingkungan BPP Muara Uya dilaksanakan 22 – 23 April 2019. Selanjutnya BPP Muara Uya akan melaksanakan IPW di desa Pasar Batu kecamatan Muara Uya pada 24-25 April 2019.

IPW atau Identifikasi Potensi Wilayah merupakan penggalian data-data potensi wilayah yang  terkait dengan data-data sumberdaya di desa dan data-data pendukung yang ikut memberikan andil dalam pengelolaan usahatani. Data-data sumberdaya yang ada di desa terdiri dari sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan sumberdaya manusia sebagai pelaku utama dalam mengelola usahatani. Sedangkan data-data pendukung pengelolaan usahatani terdiri dari data-data monografi desa, penerapan teknologi budidaya yang biasa dilakukan petani, komoditi pertanian yang dikelola petani. Seiring dengan perubahan jaman yang beralih pada pemberdayaan masyarakat dalam melakukan penggalian potensi IPW harus dilakukan dengan metoda PRA ( Partisipatif Rural Appraisal ) sebagaimana tuntutan permentan no 25 tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian. Penggalian data IPW dengan metoda PRA harus dilakukan oleh petani dan difasilitasi Penyuluh Pertanian yang bertanggung jawab diwilayah desa/kelurahan. Data-data IPW harus dilakukan pembahuruan data seiring dengan perubahan waktu dan perkembangan data.

Yana M, SP

Posted in Berita | Leave a comment

Menghitung Ubinan Padi Berdasarkan Jarak Tanam

Berbagai orientasi pertanaman dan jarak tanam yang sering
dipraktekkan petani di lapangan memiliki dasar pertimbangan ilmiah,
ekonomi, kepraktisan, konsistensi/pola beraturan, dan estetika. Disarankan
memilih ukuran ubinan terbaik yang bervariasi dengan konversi hasil ubinan
(kg/luas ubinan) ke hasil gabah per hektar (kg/ha) tertentu seperti disajikan
sebagai berikut:

Yana M SP/PPL WKPP Jaro

Sumber BBPT Padi 2017

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

Pemupukkan Tanaman Karet

Halo sobat tani sekalian, tanaman karet adalah tanaman industri yang penting, getah tanaman karet telah lama dipakai untuk industri otomotif, sehingga kebutuhannya diperlukan sepanjang tahun. agar kualitas dan kuantitas getah karet tidak menurun jangan lupa dipupuk yaaa… bagaimana tehnik pemupukkannya ? begini caranya yang saya dapat dari praktek dilapangan dan beberapa sumber yang dapat dipercaya.

Lakukan pemupukan tanaman keraet sesuai dengan waktu penyiangan, yaitu 3–4 kali setahun. Setelah kebun selesai disiangi lalu dilanjutkan dengan pemupukan sehingga unsur hara dalam pupuk dapat maksimal diserap oleh tanaman karet. Langkah-langkah pemupukan adalah sebagai berikut:

  1. Buat parit kecil mengelilingi pohon karet, lalu tabur pupuk secara merata dalam parit, dan timbun dengan tanah. Pemberian pupuk pada tanaman karet
  2. Sesuaikan jarak pemupukan dari batang karet dengan umur tanaman. Untuk karet berumur di bawah 3 tahun, jarak parit yang dianjurkan untuk memupuk adalah 30–50 cm dari pangkal batang, sementara untuk tanaman yang berumur lebih dari 3 tahun, jarak parit pemupukan adalah 100–150 cm dari pangkal batang.
  3. Takaran pemupukan tergantung umur tanaman, dan dapat dilihat pada tabel di bawah. Jenis pupuk yang digunakan juga bermacam-macam, namun akan lebih baik bila petani melakukan pemupukan lengkap untuk tanaman karet, yaitu pupuk yang mengandung unsur NPK (nitrogen, fosfor, dan kalium) yang sangat dibutuhkan tanaman. Pemupukan lengkap bisa dilakukan dengan menggunakan pupuk campuran yang sudah mengandung NPK dalam satu kemasan pupuknya atau menggunakan pupuk tunggal yang hanya mengandung salah satu unsur tersebut (seperti urea, SP36, dan KCl).
  4. Pupuk kandang tidak dianjurkan, karena di beberapa kasus yang ditemukan, dapat menyebabkan serangan penyakit jamur akar pada tanaman karet. Sementara, pupuk kieserit yang mengandung magnesium (Mg) perlu diberikan karena dibutuhkan tanaman dalam proses fotosintesis (pembentukan zat makanan)

Yana M / PPL WKPP Jaro

Sumber :

1. Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet, 2009

2. Lembar informasi World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Office No 5, Juli 2013

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

LANGKAH PENGEMBANGAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU

Pengembangan sistem PHT didasarkan pada keadaan agroekosistem setempat. Sehingga pengembangan PHT pada suatu daerah boleh jadi berbeda dengan pengembangan di daerah lain. Sistem PHT harus disesuaikan dengan keadaan ekosistem dan sosial ekonomi masyarakat petani setempat.

Para ahli dan lembaga-lembaga internasional seperti FAO menyarankan langkah pengembangan PHT agak berbeda satu sama lain. Namun diantara saran-saran mereka banyak persamaan. Perbedaannya terutama terletak pada penekanan dan urutan-urutan langkah-langkah yang harus ditempuh.

Menurut Smith dan Apple (1978), langkah langkah pokok yang perlu dikerjakan dalam pengembangan PHT adalah sebagai berikut:

Langkah 1. Mengenal Status Hama yang Dikelola

Hama-hama yang menyerang pada suatu agroekosistem, perlu dikenal dengan baik. Sifat-sifat hama perlu diketahui, meliputi perilaku hama, dinamika perkembangan populasi, tingkat kesukaan makanan, dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya. Pengenalan hama dapat dilakukan melalui identifikasi dan hasil analisis status hama yang ada.

Dalam suatu agroekosistem, kelompok hama yang ada bisa dikategorikan atas hama utama, hama kadangkala (hama minor), hama potensil, hama migran dan bukan hama. Dengan mempelajari dan mengetahui status hama, dapat ditetapkan jenjang toleransi ekonomi untuk masing-masing kategori hama.

Satu jenis serangga dalam kondisi tempat dan waktu tertentu dapat berubah status, misal dari hama potensil menjadi hama utama, atau dari hama utama kemudian menjadi hama minor.

Langkah 2. Mempelajari Komponen Saling Tindak dalam Ekosistem

Komponen suatu ekosistem perlu ditelaah dan dipelajari. Terutama yang mempengaruhi dinamika perkembangan populasi hama-hama utama. Termasuk dalam langkah ini, ialah menginventarisir musuh-musuh alami, sekaligus mengetahui potensi mereka sebagai pengendali alami.

Interaksi antar berbagai komponen biotis dan abiotis, dinamika populasi hama dan musuh alami, studi fenologi tanaman dan hama, studi sebaran hama dan lain-lain, merupakan bahan yang sangat diperlukan untuk menetapkan strategi pengendalian hama yang tepat.

Langkah 3. Penetapan dan Pengembangan Ambang Ekonomi

Ambang ekonomi atau ambang pengendalian sering juga diistilahkan sebagai ambang toleransi ekonomik. Ambang ini merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan, kapan harus dilaksanakan penggunaan pestisida. Apabila ternyata populasi atau kerusakan hama belum mencapai aras tersebut, penggunaan pestisida masih belum diperlukan.

Langkah 4. Pengembangan Sistem Pengamatan dan Monitoring Hama

Untuk mengetahui padat populasi hama pada suatu waktu dan tempat, yang berkaitan terhadap ambang ekonomi hama tersebut, dibutuhkan program pengamatan / monitoring hama secara rutin dan terorganisasi dengan baik.

Langkah 5. Pengembangan Model Deskriptif dan Peramalan Hama

Dengan mengetahui gejolak populasi hama dan hubungannya dengan komponen-komponen ekosistem lainnya, maka perlu dikembangkan model kuantitatif yang dinamis. Model yang dikembangkan diharapkan mampu menggambarkan gejolak populasi dan kerusakan yang ditimbulkan pada waktu yang akan datang. Sehingga, akan dapat diperkirakan dinamika populasi, sekaligus mempertimbangkan bagaimana penanganan agar tidak sampai terjadi ledakan populasi yang merugikan secara ekonomi.

Langkah 6. Pengembangan Srategi Pengelolaan Hama

Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem yang terkordinasi. Strategi PHT mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama tetap berada di bawah aras toleransi manusia. Beberapa taktik dasar PHT antara lain :

(1). Memanfaatkan pengendalian hayati yang asli ditempat tersebut

(2). Mengoptimalkan pengelolaan lingkungan melalui penerapan kultur teknik yang baik, dan

(3). Penggunaan pestisida secara selektif.

Srategi pengelolaan hama berdasarkan PHT, menempatkan pestisida sebagai alternatif terakhir. Pestisida digunakan, jika teknik pengendalian yang lain dianggap tidak mampu mengendalikan serangan hama.

Contoh Penerapan Pengendalian Hama terpadu Pengendalian hama penggerek batang

Penggerek batang merusak tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan. Empat jenis penggerek batang padi yang umum ditemukan adalah; Penggerek batang padi kuning (Tryporyza incertulas), penggerak batang padi bergaris (Chilo suppressalis), penggerek batang padi putih (Tryporyza innotata), dan penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens). Penghendaliannya adalah:

  1. Panen padi sawah dengan cara memotong tunggul jerami rendah supaya hidup larvanya terganggu dimana larva yang ada dibagian bawah tanaman tertinggal dan membusuk bersama jerami.
  2. Pengendalian mekanis dapat dilakukan dengan mengambil kelompok telur pada saat tanaman berumur 10-17 hari setelah semai, karena hama penggerek batang sudah mulai meletakkan telurnya pada tanaman padi sejak di pesamaian.
  3. Harus diamati intensif sejak semai sampai panen. Kalau populasi tinggi dapat dikendalikan dengan insektisida butiran (karbofuran, fipronil) dan insektisida 17 cairan (dimehipo, bensultap, amitraz, dan fipronil) yang diaplikasikan bila populasi tangkapan ngengat 100 ekor/minggu pada perangkap feremon atau 300 ekor/minggu pada perangkap lampu. Insektisida butiran diaplikasikan bila genangan air dangkal dan insektisida cair bila genangan air tinggi.
  4. Penangkapan massal ngengat jantan dengan memasang perangkap feromon 9- 16 perangkap / hektar untuk mengamati spesies dominan.

Yana M

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

Pemanfaatan Jamu Untuk Ternak

Beberapa tanaman tradisional yang mempunyai khasiat obat-obatan dan jamu antara lain lempuyang, jahe, kunyit, kencur, lidah buaya, temu lawak, bawang putih, daun beluntas, daun sambiloto dan lainnya. Pemanfaatan bahan tumbuhan herbal berkhasiat obat tidak hanya terbatas untuk manusia saja , namun pemanfaatannya telah merambah kepada ternak. Hasil pengkajian BPTP Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa pemberian konsentrat, jamu ternak dan UMMB, dapat mempercepat peningkatan pertambahan bobot badan harian (PBBH) pada sapi dari 0,32 menjadi 0,52 kg/ekor/hari (62,50 %) pada sapi Bali induk, sedangkan pada sapi unggul
Simental dapat meningkatkan PBBH dari 0,88 menjadi 1,14 kg/ekor/hari ( 29,54 %)

Lebih lengkap mengenai jamu ternak, dapat di download di sini.

sumber : http://kalsel.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=409:ternak&catid=12:liptan&Itemid=12

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

Cara Memisahkan Benih Padi Bernas dengan Indikator Telur dan Garam

Tidak ada petani yang berharap hasil dari produksinya mengalami kegagalan atau tidak memperoleh hasil, begitupun untuk petani yang membudidayakan padi. Akan tetapi tidak sedikit petani yang tidak mengetahui adanya keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya, salah satu komponen yang tidak kalah pentingnya yaitu memilih benih yang bermutu dan berkualitas tinggi ketika akan menanam padi

Salah satu informasi pertanian yang penting dalam meningkatkan produksi padi yaitu bagaimana Cara Memilih Benih Unggul Padi Bernas dengan menggunakan indikator telur dan garam. Adanya bantuan dari pemerintah berupa program peningkatan produksi beras nasional seperti  BLBU, SLPTT, dan Program lainnya tentu sangat membantu petani, akan tetapi dalam kenyataanya ada sebagian petani yang belum mengetahui cara terbaik dalam memperlakukan benih yang didapat dari bantuan pemerintah.

Dari perlakuan petani tidak sedikit ketika memperoleh benih bantuan ataupun benih yang diambil dari panen musim sebelumnya langsung di rendam dalam air untuk memisahkan antara benih hampa dan yang bernas, dari perlakuan tersebut diperolehlah benih yang menurut petani baik, akan tetapi dari pengalaman yang ada didapatkan pertumbuhan bibit padi yang tidak seragam dan menghasilkan produksi yang tidak maksimal, ini terjadi karena ternyata benih yang didapat tidak memenuhi syarat tumbuh terbaik atau indikasi retak dan hampa masih mengalami tenggelam didasar.

Saat ini ada cara yang bisa dipilih oleh petani dalam memperoleh benih unggul terbaik yaitu dengan cara memilih benih unggul padi bernas menggunakan indikator telur dan garam, cara ini bertujuan untuk memisahkan benih yang bernas dari benih yang jelek. Caranya sangatlah mudah yaitu dengan hanya menyediakan air, garam, telur, wadah (ember) dan benih beras, berikut merupakan cara / tahapan perlakuannya:

 

  • Siapkam wadah. Wadah yang di gunakan boleh ember atau wadah yang akan diisi air, garam, telur dan benih padi yang siap diseleksi
  • Masukkan air kedalam wadah. Tes awal masukkan sebutir telur ke air dan telur akan tenggelam kedasar air, ini terjadi karena berat jenis telur lebih besar dari berat jenis air
  • Masukkan garam ke dalam air (Ini bertujuan agar berat jenis air garam menjadi meningkat). Masukkan garam disertai dengan diaduk-aduk biar lebih cepat larut, dan tambahkan garam hingga telur bila dimasukkan menjadi terapung kepermukaan air
  • Masukkan telur kedalam air. Apakah mengapung? Bila belum maka tambahkan lagi garam, dan bila sudah mengapung maka pemberian garam diberhentikan. (umumnya telur mengapung pada perbandingan 20 gram garam setiap 1 liter air)
  • Kelaurkan telur yang sudah dalam keadaan mengapung
  • Masukkan benih kedalam larutan air garam. Benih yang bernas akan tenggelam, benih yang hampa dan retak akan mengapung.
  • Buang benih yang mengapung.
  • Pilih benih yang tenggelam sempurna.
  • Cuci bersih dan tiriskan benih yang tenggelam tadi.

Bila sudah melakukan cara seperti diatas, maka diperolehlah benih benas yang bermutu dan berkualitas yang siap untuk perlakuan berikutnya dalam proses menyiapkan benih bernas

sumber : http://www.informasipertanian.com/2014/08/cara-memilih-benih-unggul-padi-bernas.html

dapat juga disaksikan tutorialnya di : https://www.youtube.com/watch?v=m91fSGx7qKs

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment