Advokasi kepada Anggota dan Organisasi PERHIPTANI

 

Untuk menwujudkan anggota PERHIPTANI yang profesional, PERHIPTANI harus berperan untuk mengkuatkan kesadaran baru, dengan membekali para anggotanya menjadi profesionalis sejati. Kesadaran akan profesionalis sejati ini dibangun dengan:

  1. Mengukuhkan Keahlian (Expertise)

Keahlian digambarkan sebagai kemampuan personal yang memiliki daya ganda, yakni memiliki keunggulan kompetitif [competitive advantage], dan keunggulan komparatif [comparative advantage]. Keunggulan kompetitif ini menuntut profesional untuk menguasai kompetensi inti [core competency]. Kompetensi dalam penyuluhan, (SK Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 29 Tahun 2010, meliputi:

  • Penguasaan Kompetensi Umum/Dasar
  • penguasaan Kompetensi Inti/Fungsional
  • Penguasaan Kompetensi Khusus/Pilihan
  1. Mengkuatkan Akuntabilitas

Penyuluh bekerja atas dasar programa penyuluhan yang bersumber dari pemerintah dan pelaku utama dan pelaku usaha. Setiap kegiatan penyuluhan harus dipertanggungjawabkan penyuluh kepada clientnya dan pemerintah.

  1. Mempererat Jiwa Korsa/Kesejawatan (Corparateness)

Profesionalisme selalu membutuhkan wahana untuk mempererat persaudaraan sesama- profesi, yang dapat pula difungsikan sebagai sarana sosialisasi pemikiran ataupun sebagai alat kontrol profesi. Jiwa korsa dapat dijadikan wahana untuk membangun perlindungan profesi. Sebuah realitas yang sulit dipungkir jika dalam menjalankan aktivitas profesinnya mendapatkan gangguan, maka sebuah solidaritas akan membantu.  

  1. Meningkatkan mutu pelayanan PERHIPTANI

Mutu pelayanan di dalam dan keluar organisasi merupakan salah satu hal penting dalam meningkatkan peran PERHIPTANI. Hal ini ditempuh  melalui perbaikan administrasi, manajemen organisasi.

sumber : DPP Perhiptani

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *