Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Padi

Pengendalian hama terpadu / PHT merupakan suatu metodologi yang mengandung prinsip-prinsip dasar yang menjadi pegangan para pengguna/petani menciptakan kondisi yang optimal bagi lingkungan tanaman sehingga hama tidak menjadi masalah.

Tujuan PHT adalah :

  1. Produksi pertanian mantap tinggi
  2. Penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat
  3. Populasi OPT dan kerusakan tanaman tetap pada aras secara ekonomi tidak merugikan
  4. Pengurangan resiko pencemaran Lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan.

Contoh Penerapan Pengendalian Hama Terpadu pada tanaman Padi

  1. Pengendalian hama tikus

Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan spesies dominan pada pertanaman padi. Hama tikus perlu dikendalikan seawal mungkin, mulai dari pengolahan tanah sampai tanaman dipanen.

Cara pengendaliannya yaitu:

  1. Sanitasi lingkungan dan manipulasi habitat
  2. Kultur teknis
  3. Fisik dan mekanis
  4. Biologi
  5. Kimiawi Penerapan sistem sistemperangkap bubu (SPB) atau Trap Barrier System (TBS).
  6. Pengendalian hama penggerek batang

Penggerek batang merusak tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan. Empat jenis penggerek batang padi yang umum ditemukan adalah; Penggerek batang padi kuning (Tryporyza incertulas), penggerak batang padi bergaris (Chilo suppressalis), penggerek batang padi putih (Tryporyza innotata), dan penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens).

Penghendaliannya adalah:

  1. Panen padi sawah dengan cara memotong tunggul jerami rendah supaya hidup larvanya terganggu dimana larva yang ada dibagian bawah tanaman tertinggal dan membusuk bersama jerami.
  2. Pengendalian mekanis dapat dilakukan dengan mengambil kelompok telur pada saat tanaman berumur 10-17 hari setelah semai, karena hama penggerek batang sudah mulai meletakkan telurnya pada tanaman padi sejak di pesamaian.
  3. Harus diamati intensif sejak semai sampai panen. Kalau populasi tinggi dapat dikendalikan dengan insektisida butiran (karbofuran, fipronil) dan insektisida 17 cairan (dimehipo, bensultap, amitraz, dan fipronil) yang diaplikasikan bila populasi tangkapan ngengat 100 ekor/minggu pada perangkap feremon atau 300 ekor/minggu pada perangkap lampu. Insektisida butiran diaplikasikan bila genangan air dangkal dan insektisida cair bila genangan air tinggi.
  4. Penangkapan massal ngengat jantan dengan memasang perangkap feromon 9- 16 perangkap setiap hektar untuk mengamati spesies dominan.

 

  1. Wereng coklat atau wereng punggung putih

Wereng coklat dan wereng punggung putih (Sogatella furcifera H.) seringkali menyerang tanaman secara bersamaan pada tanaman stadia vegetatif. Pengendaliannya adalah:

  1. Di daerah endemis wereng coklat, pada musim hujan harus ditanam varietas tahan wereng
  2. Gunakan berbagai cara pengendalian, mulai penyiapan lahan, tanam legowo, pengairan inttermitten, takaran pupuk sesuai BWD.
  3. Monitor perkembangan hama wereng punggung putih dan perimbangan populasi wereng coklat dan musuh alami pada umur 2 minggu setelah tanam sampai 2 minggu sebelum panen.

 

  1. Siput murbei atau keong mas (Pomace canaliculata Lamarck)

Kerusakan terjadi ketika tanaman masih muda.Pengendaliannya adalah:

  1. Mencegah introduksi keong mas pada areal baru. Bila keong mas masuk ke dalam areal sawah baru akan berkembang cepat terutama pada lahan yang selalu tergenang dan akan sukar dikendalikan.
  2. Pengendalian harus berkesinambungan, walaupun tanaman sudah berumur 30 HST, pengendalian harus tetap dilakukan untuk mencegah serangan pada pertanaman berikutnya.
  3. Secara mekanis dapat dilakukan dengan mengambil dan memusnahkan telur dan keong mas baik dipesemaian atau di pertanaman secara bersama-sama, membersihkan saluran air dari tanaman air seperti kangkung, dan 19 mengembalakan itik setelah panen. Untuk mengurangi kegagalan panen, harus menyiapkan benih lebih banyak.
  4. Pada stadia vegetatif, dapat dilakukan: (1) pemupukan P dan K sebelum tanam; (2) menanam bibit yang agak tua (>21 Hari) dan jumlah bibit lebih banyak; (3) mengeringkan sawah sampai 7 HST; (4) tidak mengaplikasikan herbisida sampai 7 HST; (5) mengambil keong mas atau telur dan memusnahkan; (6) memasang saringan pada pemasukan air untuk menjaring siput; (7) mengumpan dengan menggunakan daun talas atau daun pepaya; (8) Aplikasi pestisida anorganik atau nabati seperti saponin dan rerak sebanyak 20-50 kg/ha sebelum tanam pada caren sehingga pestisida bisa dihemat.

 

  1. Walang sangit (Leptocorisa spp.)

Hanya menyerang tanaman yang sudah berbulir. Pengendalian dengan insektisida dilakukan jika populasinya melebih ambang kendali yaitu pada saat setelah stadia pembungaan ditemukan rata-rata >10 ekor/rumpun.

 

  1. Penyakit tungro dan wereng hijau

Pengendalian dengan waktu tanam yang tepat dan rotasi varietas telah berhasil di Sulawesi Selatan namun pada kondisi pola tanam tidak teratur, pergiliran varietas kurang berhasil, seperti di Bali dan Jawa Tengah.

Yana Mulyana, SP dari berbagai sumber

This entry was posted in Ilmu Pengetahuan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *