PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEDELAI MELALUI TEKNOLOGI BUDIDAYA JENUH AIR DI LAHAN RAWA

Pemanfaatan lahan rawa lebak untuk budidaya tanaman sangat berpotensi dalam upaya peningkatan produksi melalui ekstensifikasi. Luas lahan rawa lebak di Indonesia 13.3 juta hektar dan hanya 5% yang sudah dimanfaatkan secara intensif (Djafar 2013) terutama digunakan untuk menanam padi, sementara budidaya kedelai jarang dilakukan pada lahan tersebut karena produktivitasnya rendah.

 

Permasalahan utama pada budidaya tanaman di lahan rawa lebak adalah keberadaan air yang tidak menentu. Sebagian besar rawa lebak berpotensi kelebihan air pada musim hujan bahkan banjir dan apabila musim kemarau terjadi kekeringan sehingga pertanaman umumnya hanya dapat dilakukan satu kali. Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengelolaan air yang baik.

Perbaikan pengelolaan air dapat dilakukan dengan teknologi budidaya jenuh air yang dapat menjamin kestabilan air dari sejak tanam sampai matang fisiologis, dengan cara mempertahankan ketinggian muka air tanah setinggi 20 cm dari permukaan tanah. Hasil penelitian Endriani (2014) menunjukkan bahwa budidaya jenuh air mampu meningkatkan produktivitas kedelai mencapai 4 ton/ha di lahan rawa lebak dangkal. Meskipun BJA dapat meningkatkan produktivitas kedelai secara nyata, namun petani belum mengetahui sistem budidaya jenuh air tersebut.

 

Budidaya Jenuh Air (BJA)

 

Sistem budidaya jenuh air (BJA) adalah merupakan penanaman dengan memberikan irigasi terus-menerus dan membuat tinggi muka air tanah tetap (sekitar 5 cm dibawah permukaan tanah), sehingga lapisan tanah dibawah perakaran menjadi jenuh air (Hunter et al. 1980; Sumarno 1986).

 

Pemberian air terus-menerus sejak tanam sampai matang fisiologis. Air dialirkan melalui parit diantara petak tanaman dengan permukaan air tetap sekitar 20 cm dibawah permukaaan tanah, sehingga lapisan tanah di bawah perakaran jenuh air.

 

Keuntungan budidaya jenuh air adalah memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan produksi kedelai dibandingkan budidaya kering pada beberapa varietas kedelai (Troedson et al,1983, Ghulamahdi 1990) melalui:

  • Menciptakan lingkungan yang menjamin ketersediaan air secara stabil bagi tanaman (Ghulamahdi 1999).
  • Genangan dalam parit dapat meningkatkan hasil biji kedelai 20% sampai 80% akibat pertumbuhan bintil yang dapat dipertahankan sampai saat pengisian polong (Indradewa et al. 2004).
  • Mengurangi kemungkinan tanaman stress akibat kekurangan dan atau kelebihan air pada suatu waktu tertentu karena permukaaan air tanah dapat dipertahankan tetap.
  • Mengatasi masalah pirit, Fe dan Al karena kondisi air yg selalu tersedia dapat menekan kandungan pirit yang teroksidasi.

 

Kelemahan dalam sistem BJA ini terutama dalam penambahan biaya tenaga kerja untuk membuat saluran serta sangat tergantung pada ketersediaan air dari sumber. Ketergantungan akan sumber air yang dapat mengairi parit menyebabkan sistem BJA lebih sesuai untuk dilakukan di lahan rawa pasang surut tipe C dan B.

 

Tahapan Pelaksanaan BJA

 

  • Bila lahan yang digunakan adalah lahan pertanaman padi, segera rebahkan tunggul jerami dengan alat/glebeg setelah panen padi.
  • Semprotkan permukaan jerami dengan herbisida sistemik untuk pengendalian gulma.
  • Buat saluran dengan cangkul atau bajak (sebaiknya gunakan hand traktor) dengan ukuran lebar 30 cm dalam 25 cm. Setiap bedengan dibuat dengan lebar 4 m.
  • Isi saluran dengan air yang berasal dari air hujan atau air pasang. Tinggi genangan air adalah 5 cm atau tinggi permukaan air 20 cm dari atas bedengan.
  • Sebarkan kapur (2 t/ha), SP 36 (200 kg/ha), KCl (100 kg/ha). Kemudian didiamkan selama 4-7 hari.
  • Dua minggu setelah penyemprotan herbisida tanam kedelai dengan jarak tanam 25 cm x 20 cm, 2 biji per lubang.
  • Sebelum ditanam benih kedelai diinokulasi dengan inokulan Rhizobium sp. sekitar 5 gr/kg benih.
  • Jika 3 minggu setelah tanam, gulma muncul, kendalikan gulma dengan manual atau herbisida. Hati-hati dalam menggunakan sungkup di nozelnya
  • Semprot kedelai dengan urea 10 gr/l air dengan volume semprot 400 l/ha pada 3, 4, 5 minggu setelah tanam.
  • Jika terserang spodoptera cukup banyak segera semprot dengan insektisida.
  • Pada saat polong terbentuk sampai pengisian polong, lakukan pengamatan serangan ulat polong dan penghisap polong. Jika serangan tinggi, lakukan penyemprotan dengan insektisida.
  • Jika air di saluran berkurang, berikan tambahan air dengan pompa air atau memasukkan air pasang.
  • Umur panen pada BJA lebih lama daripada budidaya umum antara 7-15 hari tergantung varietas yang ditanam. Panen dilakukan jika minimal 80% polong telah masak fisiologis yang ditandai dengan warna coklat pada polong.

 

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/teknologi/detail/2165/peningkatan-produktivitas-kedelai-melalui-teknologi-budidaya-jenuh-air-di-lahan-rawa

Tanggal Artikel : 23-01-2017

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *