Capung, Sahabat Petani

Capung merupakan salah satu serangga purba, mereka sudah ada di bumi sejak 300 juta tahun yang lalu. Fosil capung terbesar yang pernah ditemukan di bumi mempunyai ukuran lebar sayap lebih dari 3 meter. Capung termasuk dalam ordo Odonata, banyak dijumpai di tempat-tempat terbuka yang tidak jauh dari lingkungan perairan dengan intensitas sinar matahari yang cukup, dan suhu yang hangat (250C – 330C). Di dunia tercatat lebih dari 5500 jenis capung yang sudah teridentifikasi, sedangkan di Indonesia diketahui lebih dari 700 jenis capung yang sudah teridentifikasi. Dalam sistem klasifikasi capung dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Sub Ordo Anisoptera (capung besar / Dragonfly) dan Sub Ordo Zygoptera (capung jarum / Damselfly).

Dragonfly adalah kelompok capung dengan ukuran tubuh bervariasi 5 cm – 11 cm. umumnya ditemukan di tempat-tempat terbuka, area persawahan, atau padang rumput. Dragonfly adalah serangga teritorial, capung jantan umumnya mempunyai warna lebih mencolok dari capung betina, sering dijumpai berjemur dibawah terik sinar matahari dengan hinggap pada sebuah ranting dengan kedua sayap terbuka.

Kelompok Damselfly ukuran tubuhnya lebih kecil dengan abdomen ramping memanjang menyerupai jarum, pada saat hinggap kedua sayapnya menutup ke atas. Kelompok capung ini jarang dijumpai di tempat terbuka, terbang dengan kecepatan rendah dan sering berlindung di antara ranting atau dedaunan, menyukai tempat-tempat dengan intensitas sinar matahari yang tidak terlalu terik.

Sayap capung bagian depan lebih panjang daripada sayap capung bagian belakang. Bentuk sayap seperti ini membuat capung dapat terbang sangat cepat hingga 50 km/jam dan dapat melakukan berbagai manuver di udara mulai dari bergerak ke samping, belakang sampai menyusuri suatu permukan benda. Kelihaiannya dalam terbang tersebut menobatkan capung sebagai serangga tercepat yang ada di bumi. Capung memiliki mata yang besar dengan ribuan lensa yang bersegi-segi seperti pada lebah. Dengan mata yang besar dan bersegi-segi tersebut, capung dapat melihat ke segala arah. Hal inilah yang membuat kita agak kesulitan ketika ingin menangkap hewan ini walaupun dari belakangnya sekalipun.

Di balik ketangkasan dan keindahan warnanya capung adalah serangga predator yang rakus baik pada fase nimfa maupun imago, capung juga bersifat kanibalisme terhadap sesama capung. Dengan kaki-kakinya dan rahang yang kuat, serta kecepatan terbang yang tinggi capung dapat menangkap dan memangsa berbagai jenis serangga lain. Kaki-kaki capung pada saat terbang dapat membentuk bangunan seperti jala, sehingga efektif untuk menangkap berbagai macam serangga yang ukuranya lebih kecil seperti lalat dan nyamuk yang sering kali menjadi biang permasalahan dalam dunia kesehatan, serta wereng hama yang umum dijumpai pada area pertanian padi. Bahkan capung juga menjadi ancaman bagi serangga yang ukuran fisiknya lebih besar seperti kupu kupu.

Dalam dunia pertanian imago capung dikenal sebagai serangga predator yang aktif berburu mangsa dan bersifat polifaga, berperan penting dalam keseimbangan ekosistem pertanian karena ia memakan hama yang kadang mengganggu tanaman seperti kutu daun dan wereng. Capung merupakan serangga musuh alami pada beberapa hama tanaman pangan (padi, jagung, kacang-kacangan) dan perkebunan (teh, kopi, kakao). Pada area tersebut capung merupakan predator bagi beberapa hama di antaranya adalah Nilaparvata lugens, Orseolia orizae, Scotinophora sp., Leptocorisa sp., Ostrinia sp., Helicoverpa sp., Melanogromiza sp., Oxya sp.

Capung bisa dijadikan indikator pencemaran air. Regenerasi capung diawali dengan bertelur di dalam air kemudian berproses menjadi nimfa (serangga yang hidup di dalam air). Tingkat sensitifitas nimfa dapat digunakan untuk menilai terhadap pencemaran pada air sehingga sangat membantu kita menandai kualitas air, yang masih baik dan mana yang terpolusi.

Menjaga keberadaan capung sangat mudah, salah satunya dengan tidak membuang sampah di sungai. Selain itu kita juga dapat membuat habitat buatan / kolam untuk capung. Saat ini, habitat capung sudah banyak terampas bahkan sebelum kita mengerti peran dan manfaat capung. Saat ini di berbagai wilayah di Indonesia, banyak areal persawahan (terutama dalam pertanian modern) sudah bergantung pada pestisida. Capung dan serangga-serangga lain yang tidak tahan terpaksa pergi. Begitu juga jika sungai-sungai kotor. Capung-capung enggan bertelur di lokasi tersebut. Sementara habitat capung yang sudah digantikan dengan gedung-gedung tinggi juga membuat capung hanya tinggal cerita.

Dengan menjaga lingkungan tetap alami dan tidak memakai dan mengkontaminasi lingkungan dengan bahan-bahan kimia maka akan menjaga keberlangsungan siklus kehidupan. “Lingkungan yang alami pasti akan menghadirkan capung dan juga makhluk hidup lain sehingga ada keseimbangan di dalamnya. (Yana M / PPL WKPP Jaro Kab. Tabalong)

Sumber :

http://viorara.blogspot.com/ diunggal. 22 April 2015
http://indonesiadragonfly.org/peran-capung-sebagai-predator/. 22 April 2015
Jurnal Biotropika | Vol. 2 No. 1 | 2014 27. 22 April 2015
http://www.mongabay.co.id/2013/05/06/capung-si-jagoan-mungil. 22 April 2015
Munanto.Haris.Media Penyuluhan.Diklat Dasar PP Ahli. BBPP Binuang Kalsel 2015.

This entry was posted in Ilmu Pengetahuan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *