BPP Muara Uya Kabupaten Tabalong Laksanakan IPW di Desa Garagata

Balai Penyuluhan Pertanian Muara Uya Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan melaksanakan Identifikasi Potensi Wilayah (IPW) ke tiga kainya di tahun 2019 yaitu di desa Garagata Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong. Kegiatan IPW ini merupakan program dari BPP Muara Uya yang di dukung Dinas Pertanian Tabalong melalui dana APBD. M Husnayani selaku koordinator mengatakan bahwa kegiatan IPW ini merupakan kewajiban bagi seorang penyuluh pertanian sebelum melaksanakan penyuluhan di lapangan  dan dasar bagi PPL dalam menyusun Rencana Kerja di wilayah kerjanya. Untuk  kegiatan di desa Garagata ini adalah IPW ketiga di lingkungan BPP Muara Uya dilaksanakan 22 – 23 April 2019. Selanjutnya BPP Muara Uya akan melaksanakan IPW di desa Pasar Batu kecamatan Muara Uya pada 24-25 April 2019.

IPW atau Identifikasi Potensi Wilayah merupakan penggalian data-data potensi wilayah yang  terkait dengan data-data sumberdaya di desa dan data-data pendukung yang ikut memberikan andil dalam pengelolaan usahatani. Data-data sumberdaya yang ada di desa terdiri dari sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan sumberdaya manusia sebagai pelaku utama dalam mengelola usahatani. Sedangkan data-data pendukung pengelolaan usahatani terdiri dari data-data monografi desa, penerapan teknologi budidaya yang biasa dilakukan petani, komoditi pertanian yang dikelola petani. Seiring dengan perubahan jaman yang beralih pada pemberdayaan masyarakat dalam melakukan penggalian potensi IPW harus dilakukan dengan metoda PRA ( Partisipatif Rural Appraisal ) sebagaimana tuntutan permentan no 25 tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian. Penggalian data IPW dengan metoda PRA harus dilakukan oleh petani dan difasilitasi Penyuluh Pertanian yang bertanggung jawab diwilayah desa/kelurahan. Data-data IPW harus dilakukan pembahuruan data seiring dengan perubahan waktu dan perkembangan data.

Yana M, SP

Posted in Berita | Leave a comment

Menghitung Ubinan Padi Berdasarkan Jarak Tanam

Berbagai orientasi pertanaman dan jarak tanam yang sering
dipraktekkan petani di lapangan memiliki dasar pertimbangan ilmiah,
ekonomi, kepraktisan, konsistensi/pola beraturan, dan estetika. Disarankan
memilih ukuran ubinan terbaik yang bervariasi dengan konversi hasil ubinan
(kg/luas ubinan) ke hasil gabah per hektar (kg/ha) tertentu seperti disajikan
sebagai berikut:

Yana M SP/PPL WKPP Jaro

Sumber BBPT Padi 2017

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

Pemupukkan Tanaman Karet

Halo sobat tani sekalian, tanaman karet adalah tanaman industri yang penting, getah tanaman karet telah lama dipakai untuk industri otomotif, sehingga kebutuhannya diperlukan sepanjang tahun. agar kualitas dan kuantitas getah karet tidak menurun jangan lupa dipupuk yaaa… bagaimana tehnik pemupukkannya ? begini caranya yang saya dapat dari praktek dilapangan dan beberapa sumber yang dapat dipercaya.

Lakukan pemupukan tanaman keraet sesuai dengan waktu penyiangan, yaitu 3–4 kali setahun. Setelah kebun selesai disiangi lalu dilanjutkan dengan pemupukan sehingga unsur hara dalam pupuk dapat maksimal diserap oleh tanaman karet. Langkah-langkah pemupukan adalah sebagai berikut:

  1. Buat parit kecil mengelilingi pohon karet, lalu tabur pupuk secara merata dalam parit, dan timbun dengan tanah. Pemberian pupuk pada tanaman karet
  2. Sesuaikan jarak pemupukan dari batang karet dengan umur tanaman. Untuk karet berumur di bawah 3 tahun, jarak parit yang dianjurkan untuk memupuk adalah 30–50 cm dari pangkal batang, sementara untuk tanaman yang berumur lebih dari 3 tahun, jarak parit pemupukan adalah 100–150 cm dari pangkal batang.
  3. Takaran pemupukan tergantung umur tanaman, dan dapat dilihat pada tabel di bawah. Jenis pupuk yang digunakan juga bermacam-macam, namun akan lebih baik bila petani melakukan pemupukan lengkap untuk tanaman karet, yaitu pupuk yang mengandung unsur NPK (nitrogen, fosfor, dan kalium) yang sangat dibutuhkan tanaman. Pemupukan lengkap bisa dilakukan dengan menggunakan pupuk campuran yang sudah mengandung NPK dalam satu kemasan pupuknya atau menggunakan pupuk tunggal yang hanya mengandung salah satu unsur tersebut (seperti urea, SP36, dan KCl).
  4. Pupuk kandang tidak dianjurkan, karena di beberapa kasus yang ditemukan, dapat menyebabkan serangan penyakit jamur akar pada tanaman karet. Sementara, pupuk kieserit yang mengandung magnesium (Mg) perlu diberikan karena dibutuhkan tanaman dalam proses fotosintesis (pembentukan zat makanan)

Yana M / PPL WKPP Jaro

Sumber :

1. Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet, 2009

2. Lembar informasi World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Office No 5, Juli 2013

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

LANGKAH PENGEMBANGAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU

Pengembangan sistem PHT didasarkan pada keadaan agroekosistem setempat. Sehingga pengembangan PHT pada suatu daerah boleh jadi berbeda dengan pengembangan di daerah lain. Sistem PHT harus disesuaikan dengan keadaan ekosistem dan sosial ekonomi masyarakat petani setempat.

Para ahli dan lembaga-lembaga internasional seperti FAO menyarankan langkah pengembangan PHT agak berbeda satu sama lain. Namun diantara saran-saran mereka banyak persamaan. Perbedaannya terutama terletak pada penekanan dan urutan-urutan langkah-langkah yang harus ditempuh.

Menurut Smith dan Apple (1978), langkah langkah pokok yang perlu dikerjakan dalam pengembangan PHT adalah sebagai berikut:

Langkah 1. Mengenal Status Hama yang Dikelola

Hama-hama yang menyerang pada suatu agroekosistem, perlu dikenal dengan baik. Sifat-sifat hama perlu diketahui, meliputi perilaku hama, dinamika perkembangan populasi, tingkat kesukaan makanan, dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya. Pengenalan hama dapat dilakukan melalui identifikasi dan hasil analisis status hama yang ada.

Dalam suatu agroekosistem, kelompok hama yang ada bisa dikategorikan atas hama utama, hama kadangkala (hama minor), hama potensil, hama migran dan bukan hama. Dengan mempelajari dan mengetahui status hama, dapat ditetapkan jenjang toleransi ekonomi untuk masing-masing kategori hama.

Satu jenis serangga dalam kondisi tempat dan waktu tertentu dapat berubah status, misal dari hama potensil menjadi hama utama, atau dari hama utama kemudian menjadi hama minor.

Langkah 2. Mempelajari Komponen Saling Tindak dalam Ekosistem

Komponen suatu ekosistem perlu ditelaah dan dipelajari. Terutama yang mempengaruhi dinamika perkembangan populasi hama-hama utama. Termasuk dalam langkah ini, ialah menginventarisir musuh-musuh alami, sekaligus mengetahui potensi mereka sebagai pengendali alami.

Interaksi antar berbagai komponen biotis dan abiotis, dinamika populasi hama dan musuh alami, studi fenologi tanaman dan hama, studi sebaran hama dan lain-lain, merupakan bahan yang sangat diperlukan untuk menetapkan strategi pengendalian hama yang tepat.

Langkah 3. Penetapan dan Pengembangan Ambang Ekonomi

Ambang ekonomi atau ambang pengendalian sering juga diistilahkan sebagai ambang toleransi ekonomik. Ambang ini merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan, kapan harus dilaksanakan penggunaan pestisida. Apabila ternyata populasi atau kerusakan hama belum mencapai aras tersebut, penggunaan pestisida masih belum diperlukan.

Langkah 4. Pengembangan Sistem Pengamatan dan Monitoring Hama

Untuk mengetahui padat populasi hama pada suatu waktu dan tempat, yang berkaitan terhadap ambang ekonomi hama tersebut, dibutuhkan program pengamatan / monitoring hama secara rutin dan terorganisasi dengan baik.

Langkah 5. Pengembangan Model Deskriptif dan Peramalan Hama

Dengan mengetahui gejolak populasi hama dan hubungannya dengan komponen-komponen ekosistem lainnya, maka perlu dikembangkan model kuantitatif yang dinamis. Model yang dikembangkan diharapkan mampu menggambarkan gejolak populasi dan kerusakan yang ditimbulkan pada waktu yang akan datang. Sehingga, akan dapat diperkirakan dinamika populasi, sekaligus mempertimbangkan bagaimana penanganan agar tidak sampai terjadi ledakan populasi yang merugikan secara ekonomi.

Langkah 6. Pengembangan Srategi Pengelolaan Hama

Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem yang terkordinasi. Strategi PHT mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama tetap berada di bawah aras toleransi manusia. Beberapa taktik dasar PHT antara lain :

(1). Memanfaatkan pengendalian hayati yang asli ditempat tersebut

(2). Mengoptimalkan pengelolaan lingkungan melalui penerapan kultur teknik yang baik, dan

(3). Penggunaan pestisida secara selektif.

Srategi pengelolaan hama berdasarkan PHT, menempatkan pestisida sebagai alternatif terakhir. Pestisida digunakan, jika teknik pengendalian yang lain dianggap tidak mampu mengendalikan serangan hama.

Contoh Penerapan Pengendalian Hama terpadu Pengendalian hama penggerek batang

Penggerek batang merusak tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan. Empat jenis penggerek batang padi yang umum ditemukan adalah; Penggerek batang padi kuning (Tryporyza incertulas), penggerak batang padi bergaris (Chilo suppressalis), penggerek batang padi putih (Tryporyza innotata), dan penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens). Penghendaliannya adalah:

  1. Panen padi sawah dengan cara memotong tunggul jerami rendah supaya hidup larvanya terganggu dimana larva yang ada dibagian bawah tanaman tertinggal dan membusuk bersama jerami.
  2. Pengendalian mekanis dapat dilakukan dengan mengambil kelompok telur pada saat tanaman berumur 10-17 hari setelah semai, karena hama penggerek batang sudah mulai meletakkan telurnya pada tanaman padi sejak di pesamaian.
  3. Harus diamati intensif sejak semai sampai panen. Kalau populasi tinggi dapat dikendalikan dengan insektisida butiran (karbofuran, fipronil) dan insektisida 17 cairan (dimehipo, bensultap, amitraz, dan fipronil) yang diaplikasikan bila populasi tangkapan ngengat 100 ekor/minggu pada perangkap feremon atau 300 ekor/minggu pada perangkap lampu. Insektisida butiran diaplikasikan bila genangan air dangkal dan insektisida cair bila genangan air tinggi.
  4. Penangkapan massal ngengat jantan dengan memasang perangkap feromon 9- 16 perangkap / hektar untuk mengamati spesies dominan.

Yana M

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

Pemanfaatan Jamu Untuk Ternak

Beberapa tanaman tradisional yang mempunyai khasiat obat-obatan dan jamu antara lain lempuyang, jahe, kunyit, kencur, lidah buaya, temu lawak, bawang putih, daun beluntas, daun sambiloto dan lainnya. Pemanfaatan bahan tumbuhan herbal berkhasiat obat tidak hanya terbatas untuk manusia saja , namun pemanfaatannya telah merambah kepada ternak. Hasil pengkajian BPTP Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa pemberian konsentrat, jamu ternak dan UMMB, dapat mempercepat peningkatan pertambahan bobot badan harian (PBBH) pada sapi dari 0,32 menjadi 0,52 kg/ekor/hari (62,50 %) pada sapi Bali induk, sedangkan pada sapi unggul
Simental dapat meningkatkan PBBH dari 0,88 menjadi 1,14 kg/ekor/hari ( 29,54 %)

Lebih lengkap mengenai jamu ternak, dapat di download di sini.

sumber : http://kalsel.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=409:ternak&catid=12:liptan&Itemid=12

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

Cara Memisahkan Benih Padi Bernas dengan Indikator Telur dan Garam

Tidak ada petani yang berharap hasil dari produksinya mengalami kegagalan atau tidak memperoleh hasil, begitupun untuk petani yang membudidayakan padi. Akan tetapi tidak sedikit petani yang tidak mengetahui adanya keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya, salah satu komponen yang tidak kalah pentingnya yaitu memilih benih yang bermutu dan berkualitas tinggi ketika akan menanam padi

Salah satu informasi pertanian yang penting dalam meningkatkan produksi padi yaitu bagaimana Cara Memilih Benih Unggul Padi Bernas dengan menggunakan indikator telur dan garam. Adanya bantuan dari pemerintah berupa program peningkatan produksi beras nasional seperti  BLBU, SLPTT, dan Program lainnya tentu sangat membantu petani, akan tetapi dalam kenyataanya ada sebagian petani yang belum mengetahui cara terbaik dalam memperlakukan benih yang didapat dari bantuan pemerintah.

Dari perlakuan petani tidak sedikit ketika memperoleh benih bantuan ataupun benih yang diambil dari panen musim sebelumnya langsung di rendam dalam air untuk memisahkan antara benih hampa dan yang bernas, dari perlakuan tersebut diperolehlah benih yang menurut petani baik, akan tetapi dari pengalaman yang ada didapatkan pertumbuhan bibit padi yang tidak seragam dan menghasilkan produksi yang tidak maksimal, ini terjadi karena ternyata benih yang didapat tidak memenuhi syarat tumbuh terbaik atau indikasi retak dan hampa masih mengalami tenggelam didasar.

Saat ini ada cara yang bisa dipilih oleh petani dalam memperoleh benih unggul terbaik yaitu dengan cara memilih benih unggul padi bernas menggunakan indikator telur dan garam, cara ini bertujuan untuk memisahkan benih yang bernas dari benih yang jelek. Caranya sangatlah mudah yaitu dengan hanya menyediakan air, garam, telur, wadah (ember) dan benih beras, berikut merupakan cara / tahapan perlakuannya:

 

  • Siapkam wadah. Wadah yang di gunakan boleh ember atau wadah yang akan diisi air, garam, telur dan benih padi yang siap diseleksi
  • Masukkan air kedalam wadah. Tes awal masukkan sebutir telur ke air dan telur akan tenggelam kedasar air, ini terjadi karena berat jenis telur lebih besar dari berat jenis air
  • Masukkan garam ke dalam air (Ini bertujuan agar berat jenis air garam menjadi meningkat). Masukkan garam disertai dengan diaduk-aduk biar lebih cepat larut, dan tambahkan garam hingga telur bila dimasukkan menjadi terapung kepermukaan air
  • Masukkan telur kedalam air. Apakah mengapung? Bila belum maka tambahkan lagi garam, dan bila sudah mengapung maka pemberian garam diberhentikan. (umumnya telur mengapung pada perbandingan 20 gram garam setiap 1 liter air)
  • Kelaurkan telur yang sudah dalam keadaan mengapung
  • Masukkan benih kedalam larutan air garam. Benih yang bernas akan tenggelam, benih yang hampa dan retak akan mengapung.
  • Buang benih yang mengapung.
  • Pilih benih yang tenggelam sempurna.
  • Cuci bersih dan tiriskan benih yang tenggelam tadi.

Bila sudah melakukan cara seperti diatas, maka diperolehlah benih benas yang bermutu dan berkualitas yang siap untuk perlakuan berikutnya dalam proses menyiapkan benih bernas

sumber : http://www.informasipertanian.com/2014/08/cara-memilih-benih-unggul-padi-bernas.html

dapat juga disaksikan tutorialnya di : https://www.youtube.com/watch?v=m91fSGx7qKs

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment

Smart Green House Berbasis Android

Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/3082/

Tahapan lanjutan setelah benih ditanam dengan mengunakan mesin penebar benih (Pneumechatronic Seedling Machine For Shallot and Chili Pepper), maka selanjutnya adalah perawatan tanaman sampai mencapai usia tanam di lahan, metode seperti ini biasa dikenal dengan transplanting.

Balitbangtan telah berhasil mengembangkan rumah pertanaman pintar (Smart Green House) ver.1 yang terintegrasi dengan sistem operasi android, hal ini memungkinkan untuk melakukan kontrol dan pengawasan rumah pertanaman secara remote dimanapun kita berada.

Rumah pertanaman pintar ini mempunyai fungsi dan keunggulan, antara lain sebagai rumah tanaman, dimana iklim mikro yang dibutuhkan tanaman sebagai syarat tumbuhnya dapat dikendalikan, kemudian suhu, Kelembaban, Intensitas Cahaya, dan lengas tanah dapat dikendalikan sesuai dengan syarat tumbuh tanaman.

Keunggulan lain yaitu dapat diakses menggunakan Smartphone berbasis Android, dapat diakses dimana saja dan kapan saja asal smartphone terkoneksi dengan internet.

Spesifikasi Smart Green House ini mempunyai dimensi rumah 120×80 cm, Ektension 15x24x57 cm, dengan luas 999 cm. Tipe pintu sliding, cover atas menggunakan plastik UV 14%/ 200 micron, dan cover dinding menggunakan insect net 36 mesh.

Dimensi rak di dalam rumah 130x180x1000 cm, berjumlah 2 buah/3 tingkat. Menggunakan shading net 65% dengan otomatisasi sistem on/off, serta jumlah operator cukup 2 orang saja. (TS, Wira)

Posted in Berita | Leave a comment

JH36, Jagung Hibrida Unggul Baru

Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/3084/

Badan Litbang Pertanian terus berinovasi menghasilkan teknologi untuk mendukung swasembada pangan yang telah dicanangkan oleh Pemerintah. Setelah sukses melepas JH 27 pada tahun 2015 dengan keunggulan umur panen 98 hari dan stay green, Balitbangtan kembali menghasilkan inovasi teknologi lainnya yaitu JH 36 dengan dengan umur panen lebih cepat 9 dari JH 27.

JH 36 merupakan varietas unggul baru (VUB) jagung hibrida (JH) yang telah dilepas pada 18 Oktober 2016 yang dirakit oleh Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal).

VUB JH 36 ini merupakan jenis hibrida silang tunggal (single cross) yang diperoleh dari hasil persilangan galur murni Nei9008P sebagai tetua betina dengan galur murni GC14 sebagai tetua jantan (Nei9008 x GC14). Kedua galur ini diketahui mempunyai daya gabung yang baik pada pengujian pada 16 lokasi atau musim.

Keunggulan dari JH 36 adalah memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan baik di lahan optimal maupun sub optimal. Penampilan dengan biji berwarna jingga bertipe mutiara (flint).

JH 36 sangat sesuai digunakan sebagai bahan baku pakan karena memiliki sifat stay green dimana warna batang dan daun di atas tongkol masih hijau saat biji sudah masak/waktu meski telah memasuki masa panen.

JH 36 memiliki umur masak fisiologis yang relatif genjah sekitar 89 hari dan mampu menghasilkan 12,2 ton/ha (pipilan kering, kadar air 15%). Rata-rata hasil yang didapat pada pengujian multi lokasi mencapai 10,6 ton/ha atau dua kali dari capaian produktivitas jagung nasional saat ini yang baru mencapai 5,1 ton/ha.

Selain berumur genjah, JH 36 juga tahan rebah dan beradaptasi luas di dataran rendah-sedang. Ketahanan penyakit yang dimiliki varietas ini adalah tahan terhadap penyakit bulai, karat daun dan hawar daun. (FZP)

Posted in Berita | Leave a comment

Alat Tanam Benih Cabai dan Bawang

Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/3071/

Sistem pertanaman (cropping system) adalah suatu sistem yang menyangkut segala sesuatu yang berkaitan dengan aktifitas produksi tanaman dalam suatu sistem usaha tani. Seperti halnya dengan budidaya cabai dan bawang merah. Pada kedua komoditas cabai dan bawang ada berbagai cara pertanaman untuk budidaya tanaman tersebut, ada yang langsung menggunakan umbi/ bijinya atau dengan menyemai biji dari cabai dan bawang tersebut.

Salah satu teknologi yang dikenalkan oleh Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) kali ini adalah alat untuk menanam benih cabai dan bawang dengan sistem disemai terlebih dahulu yang disebut “Alat Tanam Benih Manual”, yang ditarik dengan tangan manusia. Teknologi ini merupakan alternatif teknologi yang dapat digunakan untuk daerah-daerah yang kekurangan tenaga kerja dan dengan luasan lahan yang sempit. Diharapkan dengan diperkenalkannya alat tanam manual ini dapat memberikan opsi baru dalam pertanaman.

Fungsi dan Keunggulan dari alat tanam benih cabai dan bawang ini, adalah : Menanam bibit cabai dan bawang, Operasional mudah, serta Efisien. Alat mempunyai dimensi 199,5-206,3×87,9×105,6 cm, bobot 12 kg, jarak baris 1 pot – 13 cm, lebar alur 20 cm dan kedalaman 25 cm. (TS, Wira)

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Varietas Unggul Baru Inpari 38, 39, 41 untuk Lahan Sawah Tadah Hujan

sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/3068/

Ancaman kekeringan terhadap produksi padi dapat disebabkan oleh frekuensi El Nino yang meningkat akibat pemanasan global, atau permasalahan teknis terkait irigasi. Ekosistem padi yang peka terhadap kekeringan adalah lahan sawah tadah hujan, lahan kering (gogo), lahan rawa lebak (terminal-late drought), dan lahan sawah irigasi dengan teknik pengelolaan irigasi yang kurang baik.

Lahan sawah tadah hujan adalah lahan yang memiliki pematang namun tidak dapat diairi dengan ketinggian dan waktu tertentu secara kontinu. Oleh karena itu, pengairan lahan sawah tadah hujan sangat ditentukan oleh curah hujan sehingga risiko kekeringan sering terjadi pada daerah tersebut pada musim kemarau.

Lahan sawah tadah hujan yang berpematang berpeluang mendapatkan cekaman genangan air pada saat curah hujan tinggi dan kekeringan apabila curah hujan rendah. Terjadinya perubahan dari kondisi lahan kering ke lahan tergenang atau sebaliknya, dapat menyebabkan masalah serius dalam hal ketersediaan hara tanaman, gulma, serta serangan penyakit terutama penyakit blas.

Menanam varietas padi yang tahan adalah salah satu cara pengendalian penyakit yang paling efektif dan efisien. Varietas padi untuk lahan sawah tadah hujan yang memiliki sifat tahan terhadap penyakit blas masih terbatas. Namun sangat diperlukan diversifikasi varietas tahan penyakit blas untuk menanggulangi penyakit tersebut agar gen ketahanan tidak mudah patah. Diperlukan sejumlah varietas dengan keragaman gen ketahanan yang luas yang dianjurkan untuk ditanam oleh petani.

INPARI 38 TADAH HUJAN memiliki hasil gabah kering giling 5.71 t/ha, potensi hasil 8.16 t/ha, berumur genjah, dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas ini agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, tahan-agak tahan penyakit blas.

INPARI 39 TADAH HUJAN memiliki hasil gabah kering giling 5.89 t/ha dengan potensi hasil 8.45 t/ha, berumur genjah (115 ± 4 hari setelah sebar), dan agak toleran terhadap kekeringan, dan tahan terhadap penyakit 4 ras blas.

INPARI 41 TADAH HUJAN memiliki rata-rata hasil gabah kering giling 5.57 t/ha dengan potensi hasil 7.83 t/ha, berumur genjah (114 hari), dan agak toleran terhadap kekeringan, serta tahan-agak tahan terhadap penyakit blas.

Varietas-varietas unggul padi tersebut berpeluang untuk meningkatkan hasil padi di lahan sawah tadah hujan dan menekan kehilangan hasil akibat berkembangnya penyakit. (TS/FZP)

Posted in Ilmu Pengetahuan | Leave a comment